Pesan dari Surga (1)

PESAN DARI SURGA

Oleh Revika Rachmaniar

***

“Apa yang akan Bunda katakan padaku di hari bahagia ini? Apa, Bun?”

Yang ditanya tidak menjawab. Lidahnya beku. Bibir itu hanya mengulum senyum ke arahku. Tidak pernah berubah sedikitpun. Hanya tersenyum. Tidak ada kata yang keluar padahal aku sangat ingin mendengarkan kata-kata terakhirnya padaku di hari ini. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku mengambilnya dan kucium. Dingin. Ya, hanya foto yang terbingkai rapi di meja riasku yang kini menjadi teman setiaku pengganti keberadaan ibu.

Tidak boleh memang berandai-andai. Allah tidak menyukainya. Namun, aku ingin tahu apa yang akan Bunda katakan padaku di hari ini, di hari saat aku menjadi seorang istri seperti dirinya. Apa gerangan nasihat Bunda pada anak gadis satu-satunya ini seperti yang dilakukan ibu-ibu lain pada anak gadisnya?

Gaun dan jilbabku yang berwarna biru langit sudah lengkap dihiasi bunga. Wewangian bunga melati lembut semerbak dari tubuhku. Polesan rias sederhana di wajah. Aku siap. Siap menjadi Nyonya Alfian Fajar. Pemuda yang telah mengkhitbahku tiga bulan yang lalu. Lelaki yang aku yakin dapat menjadi imam yang baik bagiku dan anak-anakku.

Tok tok tok…

“Masuk!” Seruku sembari menaruh kembali foto wanita yang paling aku cintai itu.

Daun pintu terbuka. Sebuah langkah memasuki kamarku. Aku menoleh. Seorang wanita berdiri di ambang pintu menatapku lama.

“Kamu sudah siap?” Tanya wanita itu.

Aku menundukkan pandanganku sambil mengangguk. Wanita itu lantas masuk dan duduk di tepi ranjang yang sudah disulap menjadi ranjang pengantin yang cantik.

“Sini!” Dia menepuk-nepuk ranjang, menyuruhku menghampirinya. Aku menurut. Kepalaku masih menunduk.

“Akhirnya hari ini datang juga,” Dia membuang nafas. Dia membalik badan ke arahku dan menatapku lekat-lekat. Sejurus dia mengambil tangan kiriku. Aku terkesiap. Aku menoleh padanya.

“Kamu bahagia?” Aku mengangguk lagi. Dia tersenyum, “Kamu cantik sekali hari ini. Persis seperti bundamu.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya tersenyum. Dia wanita yang ayah nikahi setelah Bunda meninggal. Entah mengapa, aku belum bisa menerima dia sebagai pengganti Bunda. Mungkin karena aku tahu dia adalah sahabat ibuku dan berani-beraninya mengantikan posisi ibuku. Oleh sebab itu, hubunganku dengan wanita yang di hadapanku itu begitu canggung.

“Tante harap Alfian bisa membimbingmu jauh lebih baik dari Tante,” Aku mengaminkan dalam hati, “Alya,” Dia membelai kepalaku, “Sebelum bundamu meninggal, dia menitipkan sebuah pesan untukmu dan Tante harus menyampaikannya sebelum kamu menikah.”

“Apa itu?”

Bersambung..

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.