Tugas Pengantar Ilmu Farmasi “Jika Aku Menjadi…”

KEIKHLASAN TULUS YANG MEMBAWA BERKAH

Nina Karlina Dwi Putri (A 183 027 / Konversi 2018)

          Ketika ditanyakan tentang harapan dan cita-cita, jujur bagi saya yang sudah menginjak usia 22 tahun ini, kedua kata-kata itu adalah sebuah ungkapan yang menunjukkan penyesalan, kesombongan, keegoisan, keangkuhan, kemarahan dan berujung kepada keikhlasan. Dengan keikhlasan yang berawal dari keterpaksaan tersebut, dengan seiring waktu secara perlahan-lahan saya mencoba untuk mensyukuri nikmat dari Yang Maha Mulia atas pilihan yang Dia tetapkan kepada saya. Seperti yang sering orang bijak katakan, “Allah SWT itu mengetahui apa yang tidak kita ketahui, pilihan dan keputusan dari Beliau adalah sebaik-baiknya pilihan dan keputusan yang pernah terpikirkan oleh hamba-hambanya”.

          Kisah ini berawal ketika saya akan memasuki universitas. Saat itu bulan juni tahun 2014, setelah menerima kelulusan Sekolah Menegah Atas (SMA) saya ingin bisa melanjutkan kuliah untuk menjadi seorang arsitek. Menjadi seorang arsitek adalah cita-cita saya semenjak duduk dibangku Sekolah Menegah Pertama (SMP). Dengan ketetapan hati dan belajar yang giat, saya selalu berusaha dan berdoa agar bisa memasuki universitas serta jurusan yang saya harapkan selama ini.

          Setelah menerima berita tidak lulus Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), saya mendaftarkan diri untuk mengikuti tes SBMPTN dan Ujian Talenta Masuk IPB (UTM IPB). Pilihan saya di setiap tes seleksi itu adalah bidang arsitektur. Hal ini saya lakukan demi mengejar cita-cita saya menjadi seorang arsitek. Selain dua tes tersebut saya juga mengikuti Sipenmaru Poltekkes Kemenkes Palembang, alasan saya mengikuti tes ini sebenarnya tidak lebih untuk menemani ketiga sahabat saya yang memang ingin kuliah di bidang kesehatan, karena jujur bagi saya bidang itu adalah dunia yang sangat saya hindari dan tidak inginkan tetapi demi menemani ketiga sahabat tersayang, saya akhirnya mengikuti tes dengan pilihan utama farmasi dan yang kedua analis. Sejujurnya saya sendiri tidak tahu farmasi itu apa. Saat itu, alasan saya memilih farmasi sebenarnya bukan karena ada hal khusus, saat menentukan pilihan entah mengapa farmasi itu seperti menarik saya untuk memilihnya.

          Setelah semua tes seleksi yang saya ikuti telah selesai. Tiba menunggu pengumuman hasil dari tes seleksi tersebut. Dari semua tes seleksi yang diikuti ternyata saya hanya lulus seleksi di Poltekkes Kemenkes Palembang pada pilihan pertama yaitu farmasi. Di saat saya mengetahui semua hasilnya, hati, perasaan, dan pikiran saya hampa. Hari itu adalah salah satu hari yang paling saya sesali dan menjadi bagian tergelap dalam hidup. Saat itu seakan-akan saya masuk ke dalam lubang hitam alam semesta ini yang di mana tidak akan pernah bisa keluar jika telah masuk ke dalam zona tersebut.

          Untuk pertama kali saya menjadi orang yang tidak memiliki arah. Menangis? jelas itu terjadi, depresi? tentu saja saya alami apalagi ditambah faktor ketika melihat beberapa teman yang lain masuk ke univesitas dan jurusan yang diminati sedangkan saya, saya justru terdampar di bidang yang paling saya hindari. Pemberontakkan kepada orang tua juga terjadi, pemberontakan ini menjadi jejak kisah yang tidak pernah terpikir akan saya lakukan. Dengan pikiran kacau, perasaan perih, dan keputusan yang sulit akhirnya saya menyetujui untuk masuk jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Palembang. Motivasi menjalani kisah ini hanya demi tidak menyayat pedih hati, jiwa, dan raga orang tua.

          Akhir bulan agustus tahun 2014 saya mulai merajut kisah di Poltekkes Kemenkes Palembang jurusan Farmasi. Tapak jejak perjuangan saya di kampus ini bukanlah hal yang mudah, dimulai dari materi mengenai farmasi yang sulit saya pahami, keterampilan dipraktikum buruk, mendapatkan nilai yang jelek, bahkan harus mengulang ujian semua itu saya alami. Selama 2 tahun (4 semester) rajut kisah yang terangkai sangat berliku dari sedih, kecewa, menyesal, senang, bahagia, dan ada juga saat yang membanggakan yaitu di mana saya melakukan hal yang di luar perkiraan saya, yang saat itu menurut saya pasti gagal tapi justru berhasil dicapai. Dukungan dari teman seperjuangan dan dosen-dosen serta staf dari kampus yang bijak, menyenangkan, baik serta peduli menjadi warna-warni kemilau indah yang menghiasi kisah saya.

          Menemukan passion farmasi di dalam diri membutuhkan waktu yang cukup panjang. Satu tahun terakhir di kampus yang mulai saya cintai itu, saya akhirnya mulai mengakui dan mengikhlaskan dengan tulus bahwa saya adalah seorang farmasis. Rajut kisah yang awalnya kusut, terjebak di ruang keraguan, langkah penyesalan, pikiran yang sekarat, dan hati yang sesak. Semua itu mulai bisa saya luruskan rajutannya, terbebas dari ruang keraguan, langkah keikhlasan, pikiran yang bijak dan hati yang lapang di tingkat akhir saya sebagai mahasiswa D.III Farmasi di Poltekkes Kemenkes Palembang.

          Tiga tahun berlalu, 24 agustus 2017 saya berhasil menyematkan gelar A.Md.Farm di belakang nama saya, yang merupakan tanda selesainya pendidikan saya di kampus yang mulai saya cintai tersebut. Setelah menyelesaikan pendidikan, saya mengalami kebingungan untuk melanjutkan antara kuliah atau bekerja. Akhirnya setelah berpikir panjang, menyelesaikan urusan kampus, dan mendapatkan STR, saya memutuskan untuk beristirahat sejenak kembali ke kampung halaman saya di Kota Pagaralam, Provinsi Palembang setelah lika-liku, lelah, dan letih yang selama ini dialami.

          Sembari menunggu pendaftaran mahasiswa baru untuk konversi di tahun 2018 saya mencoba untuk bekerja. Saya bekerja di puskesmas di kota kecil saya, setelah memasuki dunia kerja saya menemukan banyak sekali obat-obat yang ditulis di sebuah resep, di mana jika dievaluasi menurut ilmu farmasi itu tidak baik diberikan kepada pasien, banyak sekali resep-resep yang pengunaan obatnya jika diberikan bisa memberikan efek dosis ganda. Hal ini merupakan salah satu yang memotivasi saya untuk melanjutkan pendidikan, menambah, dan memperdalam pemahaman ilmu farmasi, sediaan farmasi serta terapannya dalam masyarakat, sehingga bisa mencegah terjadi medikasi pemberian obat yang salah (medication error) kepada pasien terutama di daerah yang masih lingkup kota kecil.

Leave a Comment