Tugas Pengantar Ilmu Farmasi “Jika Aku Menjadi…”

TERLANJUR BASAH DAN LANJUT BERENANG

Jan Reza Putra (A 182 015 / RPS 2018)

            Menjadi seorang farmasis atau apoteker bukanlah cita-cita yang didambakan sejak kecil, anak kecil pada umumnya bercita-cita menjadi dokter, polisi, artis, pilot, dan lain-lain. Seperti anak lainnya akupun sempat bercita-cita menjadi seorang pilot, cita-cita ini bertahan hingga ku lulus SMK.

            Harapan besar orang-tuaku yang ingin anaknya menjadi seorang tenaga kesehatan membuatku harus mengikuti jalan yang dipilih dan diberikan kepadaku. Tiga tahun kujalani dengan semangat yang setengah-setengah, saat itu pula aku berpikir realistis bahwa pilot bukanlah sebuah tujuan, banyak kekurangan dalam diri yang membuat itu menjadi sedikit mustahil untuk digapai, dan pada akhirnya aku beralih untuk mencoba menjadi ahli dalam bidang teknokogi karena kesukaanku terhadap sains meskipun bisa dibilang aku tak cukup pintar dalam bidang ini atau biasa-biasa saja, namun tak ada salahnya mengejar hal yang kita suka.

            Setelah lulus SMK, aku berencana untuk mendaftar dan mengikuti ujian masuk ke perguruan tinggi negeri dan masuk ke jurusan yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Melihat kondisi keuangan keluarga, perguruan tinggi negeri menjadi pilihan terbaik untuk mewujudkan cita-citaku saat itu. Namun, Tuhan berkehendak lain, Dia tidak ingin aku menjalani hidup yang ku inginkan, akhirnya ku memutuskan untuk bekerja terlebih dahulu dan menabung untuk bekal kuliah nanti.

            Hingga saat ini aku masih bekerja sebagai tenaga kesehatan di salah satu rumah sakit di Bandung, tiga tahun berlalu sejak kegagalan itu, sedikit demi sedikit rasa nyaman muncul akan pekerjaan yang sedang kujalani. Tujuan sebelumnya pudar dari dalam pikiranku dan tujuan baru pun mulai tumbuh.

            Aku pun mulai menyukai diriku yang menjadi seorang tenaga kesehatan, membantu dan melayani orang lain sepertinya membuatku lupa akan apa tujuanku yang sebenarnya. Cita-cita yang baru pun muncul, hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya tiba-tiba muncul dalam kepala. Aku ingin menjadi seorang apoteker, setidaknya aku harus menjadi ahli dalam bidang ini begitulah pikirku yang sedikit didorong oleh kata ‘terlanjur’.

            Pada akhirnya aku memutuskan untuk menggapai impian baruku dengan cara melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi dan aku memilih STFI sebagai salah satu  batu lompatan. Kerja-kuliah kujalani hampir setiap harinya, beban dari kedua sisi membuat aku kerepotan. Sampai akhirnya saat itu tanggal 27 September 2018 tujuanku diperjelas lewat suatu mata kuliah yang menjelaskan tentang peluang profesi seorang apoteker yang begitu beragam,  mulai dari apoteker mandiri yang mengelola apotek sendiri hingga apoteker yang bekerja di instansi kesehatan swasta ataupun negeri.

            Semangat sedikit demi sedikit mulai mengalir deras dalam diri, tekadku untuk menjadi apoteker pun timbul dalam hati. Menjadi pembisnis sekaligus apoteker  di instansi rumah sakit swasta menjadi pilihan yang paling realistis. Berbisnis sambil melayani orang yang sakit mungkin menjadi pilihan terbaik. Namun, itu hanya akan menjadi goresan tinta belaka jika tanpa kerja keras yang mengiringi.

Leave a Comment