Tuberkulosis

(Sumber gambar : https://www.google.com/)

Tuberkulosis atau yang sering dikenal dengan TBC adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini menyerang paru dan beberapa organ tubuh lainnya. TBC dapat menyerang anak-anak, remaja, dewasa, maupun lanjut usia. Apabila tidak segera diobati, TBC dapat menimbulkan kematian bagi pengidapnya. Penyakit ini merupakan penyakit yang sering dijumpai di Indonesia. Menurut Depkes RI, Indonesia termasuk ke dalam 30 daftar negara dengan beban TBC tinggi berdasarkan tingkat keparahannya.

Gejala utama yang timbul dari penyakit TBC adalah batuk berkepanjangan lebih dari 3 minggu dan dapat disertai dengan darah bila sudah parah, disertai dengan beberapa gejala tambahan seperti demam yang berlangsung lama, keringat dimalam hari meskipun suhu tidak panas dan tanpa aktivitas fisik, penurunan nafsu makan yang disertai penurunan berat badan secara drastis, cepat lelah, serta diare lebih dari seminggu. Jika terdapat gejala-gejala seperti ini maka sangat dianjurkan untuk memeriksa ke dokter.

Penyakit TBC sering mengindikasikan adanya penyakit HIV/AIDS karena gejala yang ditimbulkan oleh TBC mirip dengan gejala-gejala yang ditimbulkan oleh HIV/AIDS. Namun, bukan berarti semua penderita TBC merupakan penderita HIC/AIDS. Seorang penderita TBC harus melakukan tes HIV/AIDS untuk memastikan bahwa apakah penderita terjangkit virus HIV/AIDS atau hanya TBC biasa.

Ada 2 jenis penyakit TBC yaitu TB paru dan TB ekstra paru. TB paru menyerang jaringan paru kecuali selaput paru. Sedangkan TB ekstra paru menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya selaput otak, selaput jantung, kelenjar limfa, tulang persendian, saluran kencing, saluran reproduksi, dan saluran darah. Penularan TBC dapat melalui udara saat batuk, bersin, ataupun saat berbicara.

Seseorang yang telah didiagnosis penyakit TBC harus menjalani pengobatan selama 6 bulan. Hal ini dikarenakan bakteri penyebab penyakit ini merupakan bakteri yang sangat sulit untuk ditembus oleh obat. Pengobatan biasanya dilakukan dengan terapi kombinasi obat-obat antibiotik seperti isoniazi (INH), rifampisin (RIF), pirazinamid (PZA), dan etambutol (EMB). Pengobatan intensif dilakukan selama 2 bulan pertama kemudian dilanjutkan dengan pengobatan lanjutan selama 4 bulan.

Ada beberapa upaya pencegahan dan pengendalian penularan yang dapat dilakukan, yaitu hidup bersih dan sehat, meningkatkan daya tahan tubuh, terhindar dari asap rokok, hindari pemakaian barang yang sama dengan penderita misalnya botol minum, tempat makan, lipstik dan barang lain yang dapat menularkan bakteri.

Bagi penderita TBC, hal yang harus dilakukan yaitu istirahat yang cukup, tutup mulut menggunakan masker agar bakteri tidak menyebar kemana-mana, jangan meludah di sembarang tempat, hindari udara dingin, pastikan udara segar masuk ke dalam tempat tidur, pisahkan barang-barang dari orang yang masih sehat, makanan harus tinggi karbohidrat dan protein, jauhkan asap rokok dan polusi kendaraan, serta hindari alkohol.

            Hal yang harus selalu diingat adalah, TBC bukanlah penyakit kutukan, TBC dapat disembuhkan melalui pengobatan secara teratur. Jika terdapat gejala-gejala yang megindikasikan penyakit TBC baik itu diri sendiri, keluarga atau orang-orang terdekat, maka periksalah ke dokter agar segera dilakukan penanganan.

Penulis,

Viktoria Bubu

Leave a Comment