Seminar Nasional Produk Paten Farmasi 2018, Gelaran Istimewa untuk Para Apoteker

Himpunan Seminat bersama PD IAI JABAR menyelenggarakan acara Pasamoan Kafarmasian dan KONFERDA (PEK). Perhelatan ini digelar selama 3 hari, dimulai pada tanggal 27 hingga 29 Juli 2018 di Grand Asrilia Hotel, Bandung.

Pada PEK 2018, Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STFI) ikut mengambil bagian bersama dengan Himpunan Apoteker Seminat Obat Tradisional (HIMASTRA)  menggelar acara bertajuk “Seminar Nasional Produk Paten Farmasi” (SNPPF) yang diselenggarakan pada hari Jumat, tanggal 27 Juli 2018.

Ketua pelaksana SNPPF, Hesti Riasari, M.Si., Apt. mengatakan, acara ini diselenggarakan karena mengingat banyaknya akademisi meneliti herbal medik dan menunjukkan potensi yang cukup masif untuk bisa dipasarkan, namun masih banyak yang belum paham akan potensi tersebut.

“Masing-masing pihak beranggapan bahwa proses untuk menjadikan paten suatu produk terkesan rumit dilihat dari segi birokrasi. Hal ini sebagai peluang sekaligus wadah untuk menjembatani akademisi, praktisi, dengan industri dalam menyamakan persepsi dan juga kesepahaman dengan kebutuhan masing-masing pihak. Oleh karena itu, diperlukan seminar dan workshop mengenai prosedur untuk menjadikan hasil penelitian sebagai produk paten yang dapat dipasarkan,” jelasnya.

Di acara SNPPF ini juga dilakukan penandatanganan perjanjian kerja sama antara PT Agro Jabar dengan STFI dalam bidang penelitian dan pengembangan produk stevia.

Seminar yang terdiri dari empat sesi tersebut berhasil mendatangkan pembicara yang spektakuler pada setiap sesinya. Pada sesi pertama SNPPF mendatangkan Raymond R. Tjandrawinata, Ph.D, MS. yang merupakan direktur pengembangan perusahaan Dexa Group dan ia merupakan peraih Habibie Award 2016 dibidang Ilmu Kedokteran dan Bioteknologi. Selain Bapak Raymond, di sesi pertama juga turut mendatangkan Prof. Dr. R. Sidik, Apt. yang merupakan pemegang hak paten dari produk Kiranti. Sepak terjangnya sebagai peneliti membawanya meraih berbagai penghargaan salah satunya penghargaan Tanda Kehormatan Peneliti Utama dari Presiden RI pada tahun 1990. Dalam kesempatan ini mereka mengusung tema “Hasil Penelitian yang Berpotensi Marketable”, yang membahas tentang tantangan apa saja serta peluang yang ada untuk herbal medik dapat dipatenkan.

Pada sesi kedua, di seminar ini diusung tema “Pengembangan Sediaan Kombinasi Herbal, Berpotensi Paten”, dimana dipaparkannya mengenai kombinasi jahe dan mengkudu yang memiliki khasiat sebagai antituberkulosis, dengan pembicara Prof. Dr. Elin Yulinah Sukandar, Apt. yang merupakan ketua kelompok keahlian farmakologi–farmasi klinik Sekolah Farmasi ITB.

Tak kalah seru, pada sesi ketiga SNPPF menghadirkan Direktur Pengelolaan Kekayaan Intelektual Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Dr. Sadjuga yang membahas mengenai pemanfaatan herbal medik sebagai komoditi yang berpotensi paten. Selain Dr. Sadjuga, SNPPF juga menghadirkan Prof. Dr. Sukrasno dari kelompok keahlian biologi farmasi Sekolah Farmasi ITB pada sesi keempat dengan membawakan tema “Tantangan Pengembangan Obat dari Bahan Alam Sebagai Obat Preventif”.

SNPPF pun mengadakan presentasi oral di hari Sabtu. Kegiatan ini diikuti dengan sangat antusias oleh para peserta yang merupakan dosen STFI maupun dosen luar, dan diantara dosen-dosen terselip juga mahasiswa tingkat akhir yang memaparkan hasil penelitiannya.

Hadirnya presentasi oral ini bertujuan untuk memilih paper penelitian yang terbaik untuk dimuat di jurnal Pharmacology and Clinical Pharmacy Research (PCPR) serta Indonesian Journal of Applied Science Journal. 

“Untuk mempublikasikan hasil penelitian dosen dan akan dipublikasikan di jurnal internasional berindex dan ber ISSN” tutur Ibu Hesti.

Ibu Hesti berharap dengan hadirnya SNPPF 2018 ini dapat memfasilitasi dosen-dosen baik dari STFI dan dari universitas luar untuk mempublikasikan hasil penelitiannya dan bisa bekerja sama dengan jurnal bereputasi, baik nasional maupun internasional. “Karena tugas dosen selain mengajar ada penelitiaan yang harus dipublikasikan serta pengabdian , yang biasa disebut ‘Tri Dharma Perguruan Tinggi’” ungkapnya.

Salah satu diantara peserta yang hadir, mas Sofyan mengungkapkan bahwa acara SNPPF ini menarik dan sangat bagus, karena di seminar ini kita dapat mengetahui pengalaman-pengalaman dari orang yang sudah sukses di bidangnya yang dapat dijadikan sebagai sebuah tolak ukur kedepannya nanti.

“Harapannya, semoga STFI punya acara yang seperti itu sendiri dengan kepanitiaan dan dananya sendiri, serta terbuka untuk mahasiswa, harga terjangkau” tukasnya.

Selain seminar dan workshop, di acara SNPPF pula turut menghadirkan expo, dalam expo tersebut dipamerkannya produk hasil paten yang telah dibuat oleh STFI dan hasil karya mahasiswa KKN.

Penulis,

Avila Garibaldi

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.