Portofolio : Kejarlah Daku, Wahai Calon Lulusan Terbaik

Kata “Portofolio” pasti telah akrab di telinga mahasiswa Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STFI). Yup, pengumpulan poin portofolio dalam jumlah tertentu adalah hal yang wajib dilakukan setiap mahasiswa STFI sebagai salah satu syarat kelulusan, bahkan penentu status mahasiswa saat kelulusan, loh. Kok bisa?

“Portofolio mahasiswa adalah kumpulan data yang memuat histori kinerja mahasiswa secara menyeluruh, baik akademik maupun non akademik.  Setiap bentuk kinerja yang dilakukan mahasiwa, akan diapresiasi dalam bentuk poin dengan persyaratan tertentu. Kinerja yang dinilai harus memuat bukti yang tervalidasi. Poin-poin yang diperoleh kemudian diakumulasikan di akhir semester, dan hasilnya disebut nilai total.” Begitulah keterangan dari pihak kemahasiswaan STFI saat sosialisasi mengenai pentingnya poin portofolio, 16 Desember 2017 yang lalu. Maka dari itu, kegiatan ini dihadiri oleh sebagian besar mahasiswa angkatan 2014 sebagai mahasiswa tingkat akhir yang memang harus segera memverifikasi poin-poin yang sudah dikumpulkan selama masa perkuliahan.

Bagaimana poin portofolio bisa menentukan status kita? Poin portofolio merupakan salah satu persyaratan yang harus dipenuhi mahasiswa demi mendapat predikat sebagai “Lulusan Terbaik”. Kategori Lulusan Terbaik ini akan diberikan pada satu orang mahasiswa dari setiap kelas (regular pagi/sore, dan konversi) per angkatan. Lebih lengkapnya, persyaratan untuk menjadi Mahasiswa Lulusan Terbaik STFI adalah sebagai berikut.

  1. Nilai portofolio minimal 150 poin
  2. Memiliki nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 3,00.
  3. Tidak pernah mengulang satu pun mata kuliah.
  4. Menyelesaikan pendidikan maksimal 8 semester untuk kelas reguler, dan maksimal 4 semester untuk kelas konversi.

Mahasiswa yang memenuhi seluruh persyaratan di atas berhak menyandang gelar Calon Lulusan Terbaik. Ya, calon. Lalu, bagaimana mekanisme seleksi kandidat Mahasiswa Lulusan Terbaik ini?  Pertama, seluruh mahasiswa akan diurutkan mulai dari jumlah poin tertinggi, sampai poin terendah (150 poin). Kemudian, 10 orang mahasiswa peringkat teratas dari tiap kelas, akan diseleksi kembali sesuai dengan persyaratan ke-2, ke-3, dan ke-4. Itulah mengapa kita harus berlomba dalam mengumpulkan poin portofolio, karena banyaknya jumlah poin akan menentukan posisi kita saat proses seleksi. Apabila salah satu syarat tersebut tidak terpenuhi, maka mahasiswa tersebut gugur dari statusnya sebagai Calon Mahasiswa Lulusan Terbaik.

Sosialisasi portofolio ini dihadiri juga oleh ketua angkatan mahasiswa 2014, Dhany Ramdhani. Ketika ditanya pendapatnya mengenai acara sosialisasi tersebut, Dhany menjawab, “Untuk sosialisasinya, ya jadi lebih mudah dan paham dalam tata cara pengisian form portofolio dan kriteria apa saja yang boleh dimasukkan. Untuk portofolionya sendiri, sebenarnya itu merupakan salah satu cara kampus untuk melatih soft skill dan hard skill kita sebagai mahasiswa sebelum benar-benar terjun ke dunia luar, terutama dunia kerja yang sudah pasti lebih kompleks dibandingkan menjadi mahasiswa. Ketika soft skill dan hard skill sudah terlatih, setidaknya bisa membantu kita dalam beradaptasi dengan dunia luar.”

Kang Dhany juga menyatakan tidak keberatan dengan ketentuan poin portofolio yang berlaku. “Justru nanti kalo kita sudah menjadi seorang apoteker, ada persyaratan Satuan Kredit Partisipasi (SKP) yang harus diikuti yang prinsipnya sama seperti portofolio, jadi bisa dilatih dari sekarang” ungkapnya.

Portofolio memang menjadi faktor penentu predikat Lulusan Terbaik yang menjadi idaman tiap mahasiswa. Lebih dari itu, kita juga bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk menyeimbangkan kemampuan akademis dan non akademis agar lebih siap dalam menghadapi dunia kerja nantinya. So, tunggu apalagi? Kembangkan kreativitasmu dan kumpulkan poinnya!

Penulis,

Ati Setiasih

Leave a Comment