Detektif Philo : Misteri Tetrodotoksin

 

“Jerry selalu memesan menu yang sama, yaitu udon, sushi ikan buntal, dan segelas air es.”

Detektif Philo menghela napas. Dilihatnya kerumunan orang berkumpul di depan restoran Jepang yang sudah diberi garis polisi. Hari sudah larut malam, namun kerumunan itu nampaknya tidak menyerah. Polisi yang berjaga pun kewalahan untuk membubarkan kerumunan tersebut. Wajar sih, baru saja ada yang meninggal di restoran itu, siapa yang tidak heboh?

Begitu Philo berhasil menginjakkan kaki di dalam restoran, pemandangan pertama yang dilihatnya adalah seorang pria yang terbujur kaku di lantai dan tim forensik yang sedang sibuk memeriksa tubuhnya.

“Korban bernama Jerry Yuan, berusia 35 tahun dan berprofesi sebagai manajer di salah satu perusahaan periklanan. Dia merupakan langganan tetap di restoran ini, mungkin hari ini dia datang untuk makan malam.” jelas Frans, polisi berkumis yang merupakan anak buah Philo. “Kita masih harus menunggu hasil analisis dari tim forensik.”

Philo mendekati tubuh tak bernyawa itu. Tubuh korban tergeletak di dekat kursi. Di mejanya masih terdapat semangkuk udon yang sudah tinggal setengah, dua piring sushi, dan segelas air es. Sementara Philo memeriksa meja tersebut, salah satu petugas forensik datang menghampirinya.

“Hasil analisisnya sudah keluar. Kau pasti terkejut saat melihat ini.” ujar petugas forensik sambil menyerahkan map berwarna cokelat. Philo membuka map tersebut dan membaca isinya.

“Tetrodotoksin?” Philo menatap petugas forensik itu dengan bingung.

Petugas forensik itu kemudian menjelaskan, “Dalam darah korban terdapat 4 mg Tetrodotoksin. Senyawa beracun yang terdapat pada ikan buntal. Tetrodotoksin sangat berbahaya karena merupakan senyawa yang larut dalam air, tidak berwarna, tidak berbau, dan stabil pada pemanasan, sehingga tidak akan rusak selama proses pemasakan.”

“Gejala awalnya adalah mual, muntah, mati rasa pada rongga mulut, gatal pada bibir dan akhirnya terjadi kelumpuhan otot pada sistem pernapasan dan jantung. Sebab racun ini menghambat saluran sodium sehingga penetrasi sodium di sel saraf tidak berjalan dan mengakibatkan berhentinya proses pernafasan. Hal inilah yang membuat Jerry Yuan meninggal. Gejala tersebut terjadi hanya dalam 30 menit, cepat sekali.”

Setelah berterima kasih kepada petugas forensik tersebut, Philo menoleh kepada Frans yang sedang berdiri di sampingnya. “Frans, kumpulkan para saksi. Kita perlu mendengarkan kronologisnya.”

Saksi Pertama: Koki

“Jerry adalah pelanggan tetap kami. Dia sering sekali makan malam di sini dan memesan sushi dengan ikan buntal. Di restoran ini, hanya aku yang mempunyai sertifikat untuk mengolah ikan buntal. Ah, rasanya sulit sekali membayangkan Jerry meninggal setelah memakan ikan buntal yang aku olah. Padahal 30 menit sebelum disajikan, aku sudah mencobanya dan tidak terjadi apa-apa denganku.” Koki bertubuh gembul tersebut menundukkan kepala sambil memainkan apronnya.

“Kau mencobanya terlebih dahulu?” tanya Philo.

Sang koki mengangguk. “Ya, itu kewajibanku untuk menjamin keamanannya. Jadi kalau sesuatu terjadi, hanya terjadi padaku, bukan pelanggan kami. Aku benar-benar mencobanya, aku tidak bohong. Orang-orang di dapur menjadi saksinya.”

Saksi Kedua: Pelayan

“Jerry selalu memesan menu yang sama, yaitu udon, sushi ikan buntal, dan segelas air es.” ujar pelayan perempuan itu sambil tertawa. “Jerry cukup terkenal di restoran ini karena pesanannya yang unik dan dia selalu meminta isi ulang air es nya. Para pelayan di sini menyebutnya Mr. Refill. Hari ini juga dia begitu, dia memakan habis semua es dan meminta isi ulang.”

“Membingungkan sekali, padahal dia memesan ikan buntal yang harganya mahal, tapi dia tidak pernah memesan minum selain air es yang gratis.”

Philo tersenyum mendengar penjelasan dari pelayan tersebut. Badannya terasa ringan saat ia berjalan menghampiri Frans yang terkantuk-kantuk di kursi restoran.

“Frans, kawanku, ayo kita pulang. Kupikir kasus ini sudah selesai. Aku tahu siapa yang meracuni Jerry.”

 

 

Penulis,

Joana Tania

Leave a Comment