Pahlawan dan Malaikat

Pahlawan dan Malaikat

Disebuah pinggiran kota tinggallah keluarga seorang pedagang ayam potong beserta istri dan keempat anaknya. Mereka tinggal di rumah sederhana yang bersih dan nyaman. Keluarga mereka termasuk keluarga yang cukup bahagia. Sang ayah dan ibu berkerja setiap hari di pasar, dari mulai matahari belum menampakkan diri hingga matahari yang akan tenggelam. Usaha yang mereka jalankan cukup terbilang sukses karena dapat membiayai semua kebutuhan keluarga mereka.

Hingga suatu hari bagaikan hujan yang tiba-tiba datang pada hari yang cerah. Waktu masih petang seakan matahari masih enggan untuk menapakkan diri, kabar duka terdengar disetiap masjid-masjid dekat rumah keluarga mereka. Kabar duka yang memberitakan bahwa sang kepala kelurga pergi meninggalkan mereka untuk selama-lamanya, penyebabnya karena serangan jantung mendadak.

Tangisan histeris mulai menyelimuti keluarga ini. Seketika keluarga ini mengalami kesedihan yang mendalam karena ditinggal sang kepala keluarga. Akan tetapi, Ibu dari keluarga itupun tidak ingin kesedihannya berlangsung terlalu lama. Dengan bermodalkan kata “iklhaskan” dia mencoba untuk bangkit dan kembali menjalani rutinitas tanpa sang suami.

Pada awalnya memang terasa sulit dan melelahkan harus membiayai keempat anaknya yang masih membutuhkan biaya pendidikan, tapi yang lebih melelahkan adalah dia juga harus berperan sebagai seorang ayah dan ibu sekaligus. Tetapi dia tidak pernah mengeluh dan selalu bekerja keras dalam mengerjakan pekerjaannya. Dan yang menjadi penyemangat untuk dia adalah untuk dapat membantu anak-anaknya dalam meraih mimpi.

Dia selalu memberikan semua kebutuhan keluarga mereka. Dia juga masih menjalani peran untuk memberikan kasih sayang yang melimpah. Dia yang tidak pernah mengharapkan imbalan ataupun balasan. Dia yang selalu berfikir positif pada semua yang dia kerjakan. Dia yang selalu menujukan keceriaan dan senyuman manis di wajah keriputnya walupun sibuk dan letih akan pekerjaannya dan dia adalah sosok pahlawan dan malaikat dalam waktu yang bersamaan.

Penulis : Diana

 

Cerpen Uncategorized