Mengenal Lumpuh Otak (Cerebral Palsy) Pada Anak

Mengenal Lumpuh Otak (Cerebral Palsy) Pada Anak

Margareth Cristiany Fernandez (RPB / A 181 069)

Kata Cerebral Palsy mungkin masih jarang didengar masyarakat umum dibanding autis atau autisme. Keduanya adalah sama-sama jenis gangguan pertumbuhan pada anak.

Lumpuh otak atau cerebral palsy merupakan suatu penyakit saraf yang mengganggu atau memengaruhi koordinasi dan pergerakan tubuh. Kondisi ini terjadi akibat adanya masalah pada bagian otak besar yang mengendalikan kerja otot-otot. Lumpuh otak adalah salah satu penyebab paling umum kelumpuhan kronis pada anak-anak.

Tingkat keparahan gejala lumpuh otak berbeda-beda pada setiap penderitanya. Ada yang hanya mengalami gejala ringan, hingga berat. Biasanya gejala lumpuh otak akan mulai terlihat selama tiga tahun pertama kehidupan anak dan dapat dipicu oleh kerusakan yang dialami oleh otak setelah anak lahir.

Berikut adalah gejala kelumpuhan pada otak yang berkaitan dengan koordinasi dan pergerakan tubuh.

  1. Gerakan tidak bisa dikendalikan atau tremor
  2. Mengeluarkan air liur secara terus menerus
  3. Gerakan melambat dan menggeliat
  4. Terhambatnya kemampuan bicara anak
  5. Salah satu sisi tubuh seperti tidak berfungsi
  6. Tonus otot sangat lemah dan kaku
  7. Kemampuan motorik pada bayi terhambat seperti duduk dan merangkak

Bagian tubuh yang terkena dampak lumpuh otak bermacam-macam. Bisa salah satu tangan, kaki, lengan ataupun sekaligus kaki dan tangan. Lumpuh otak ini pun, menyebabkan beberapa gejala gangguan saraf lainnya, seperti :

  1. Kejang-kejang
  2. Gangguan kecerdasan
  3. Gangguan mental
  4. Kesulitan berbicara
  5. Kelainan pada bentuk tulang, khususnya pada tulang pinggul dan tulang belakang atau skoliosis

Penyebab lumpuh otak diantaranya adalah :

  1. Kelahiran prematur
  2. Kelahiran sungsang
  3. Terhambatnya suplai darah ke janin atau yang sering disebut stroke janin
  4. Infeksi pada otak yang diderita bayi pada saat lahir seperti meningitis, penyakit kuning yang tidak bisa diobati dan ensefalitis.
  5. Kurangnya suplai oksigen selama kelahiran bayi
  6. Berat badan bayi yang sangat kurang, yaitu kurang dari 2,5 kg
  7. Cedera parah dikepala akibat terjatuh

Diagnosis Lumpuh Otak

Mendeteksi lumpuh otak pada bayi sangat sulit dilakukan. Ini dikarenakan bayi dapat mengidap beberapa penyakit dan gejalanya berubah-ubah pada tahun pertama ia hidup. Dalam beberapa kasus hasil positif lumpuh otak baru bisa didapat setelah melakukan pemeriksaan selama beberapa bulan bahkan tahun, dan dapat diketahui tingkat keparahannya saat berusia tiga sampai empat tahun.

Berikut adalah beberapa tes yang dapat dilakukan untuk mengetahui adanya lumpuh otak :

  • Electroencephalogram (EEG). Melalui tes ini aktivitas otak dapat dimonitor dengan menggunakan bantuan elektroda yang dipasang di kulit kepala.
  • CT scanyaitu tes yang dilakukan untuk menghasilkan gambar otak secara rinci dengan bantuan sinar-X dan komputer.
  • MRI ScanFungsi tes ini sama seperti CT scan, namun bedanya MRI scan menggunakan gelombang magnetik dan radio.
  • USG, yaitu pencitraan jaringan otak dengan menggunakan gelombang suara.
  • Electromyogram (EMG)Mengukur fungsi dan kegiatan otot dari jaringan saraf peripheral yang terbentang mulai dari otak hingga tulang belakang dan area tubuh lainnya.
  • Tes darah. Melalui tes yang dilakukan di laboratorium ini, dapat diketahui apakah anak mengalami penggumpalan darah yang mengacu pada stroke dan bisa memicu lumpuh otak, atau memiliki masalah metabolisme dan genetik.

Pengobatan Lumpuh Otak

Lumpuh otak adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan, namun dapat mengurangi sebagian besar gejala-gejala yang diakibatkan oleh lumpuh otak, diantaranya :

  1. Diazepam yang digunakan untuk mengurangi gejala kaku otot dan memiliki efek samping seperti, bingung, lupa, hilang koordinasi, pusing, cadel saat bicara dan mengantuk.
  2. Tizanidine dan Tranzolene yang berfungsi menggantikan diazepam jika tidak berfungsi yang dapat mengendurkan otot. Obat ini dapat menimbulkan kerusakan hati, jika tidak berhati-hati dalam pemakaiannya. Efek samping penggunaan obat ini sama dengan efek samping yang ditimbulkan oleh Diazepam.
  3. Botulinum Toxin adalah obat yang disuntikan untuk menyembuhkan kaku otot. Obat ini biasanya, diberikan kepada pasien sambil melakukan terapi agar lebih efektif.
  4. Baclofen adalah obat yang sama dengan diazepam namun, digunakan dalam jangka panjag. Efek samping yang ditimbulkan adalah hilang koordinasi, diare, konstipasi, mual dan mengantuk.

Selain obat-obatan, berbagai jenis terapi juga diperlukan untuk mengatasi gejala lumpuh otak, diantaranya :

  1. Fisioterapi adalah terapi yang dibimbing oleh seorang ahli yang betujuan untuk mencegah jarak pergerakan otot berkurang atau hilang sama sekali, mencegah otot menjadi semakin lemah karena jarang digunakan dan meningkatkan kemampuan pergerakan yang memungkinkan alat bantu.
  2. Terapi Okupasi adalah terapi yang dilakukan oleh ahli dengan cara menelaah kesulitan pasien dalam melakukan kegiatan sehari-hari sepeti berpakaian atau pergi ke toilet, kemudian ahli akan membantu dan terapi ini terbilang berhasil karena melatih kemandirian pasien .
  3. Terapi bicara adalah terapi yang dilakukan pada pasien lumpuh otak dengan cara melatih anak berbicara dengan alat bantu berupa simbol-simbol maupun gambar yang mewakili kata suatu benda.
  4. Terapi Biofeedback adalah terapi yang diperuntukkan untuk penderita yang kesulitan mengendalikan air liurnya. Pada terapi ini, penderita akan dilatih mengetahui kapan mengeliarkan air liur dan diajarkan menelan.

Menurut saya penyakit lumpuh otak pada ini dapat dicegah dari awal, yaitu pada saat usia dalam kandungan masih sangat muda dengan cara membiasakan diri untuk menjaga pola hidup sehat, mulai dari olahraga ringan untuk ibu hamil, asupan gizi yang mencukupi, ditambah dengan susu ibu hamil, memenuhi asupan vitamin yang mencukupi dengan mengonsumsi buah dan sayur, dan dapat memeriksakan kandungannya minimal 3 sampai 4 kali sebelum masa kelahiran.

Setiap anak yang terlahir dalam kondisi lumpuh otak bukan berarti lumpuh harapan untuk melanjutkan kehidupannya. Anak-anak tersebut membutuhkan perhatian lebih dari orang-orang disekitar mereka untuk membantu melakukan suatu hal untuk kelangsungan hidup mereka. Banyak kasus dimana orang yang mengidap kelumpuhan pada otak masih dapat bersekolah dan dapat memiliki prestasi seperti anak normal lainnya.

Leave a Comment