Gastritis Dapat Terjadi Karena Penggunaan NSAID?

Hampir 10 persen penduduk dunia menderita gastritis. Berdasarkan penelitian World Health Organization, insiden gastritis di dunia mengalami peningkatan mencapai 1,8-2,1 juta jiwa per tahun. Di Indonesia, pada tahun 2009 tercatat 30.154 penderita gastritis yang menjalani rawat inap di rumah sakit yang terdiri dari 12.378 orang laki-laki dan 17.396 orang perempuan.

Gastritis merupakan suatu inflamasi yang terjadi pada lapisan mukosa lambung akibat adanya ketidakseimbangan antara faktor penyebab iritasi lambung (pepsin dan HCl) dan faktor pelindung lambung (mukus dan bikarbonat). Penyebab ketidakseimbangan faktor pengiritasi dan pelindung lambung tersebut salah satunya adalah penggunaan obat-obatan golongan NSAID (Non-steroidal Anti Inflammatory Drugs) dalam jangka waktu panjang. Obat-obatan yang masuk dalam golongan NSAID diantaranya adalah Ibuprofen, Aspirin, Meloxicam, Na-diclofenac, dan sebagainya, yang biasanya digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri.

Nyeri merupakan pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan dimana berhubungan dengan kerusakan jaringan atau potensial terjadi kerusakan jaringan. Nyeri dapat dirasakan karena banyaknya pelepasan mediator nyeri, salah satunya adalah prostaglandin. Prostaglandin merupakan hasil bentukan dari asam arakhidonat dengan bantuan enzim siklooksigenase yang berperan dalam proses inflamasi, edema, rasa nyeri lokal dan kemerahan (eritema lokal). Terdapat 2 jenis enzim siklooksigenase (COX), yaitu COX-2 yang  berfungsi meningkatkan terjadinya trauma (otak dan ginjal) dan menimbulkan inflamasi, demam, dan nyeri. Sebaliknya, COX-1 yang terdapat pada parenkim ginjal, platelet, dan lambung berperan dalam proses agregasi platelet, fungsi ginjal, dan membantu dalam perlindungan lambung.

Bagaimana cara NSAID dapat menyebabkan gastritis? NSAID dapat memicu terjadinya gastritis karena mekanisme kerjanya yang menghambat aksi dari enzim siklooksigenase. Jika kerja dari siklooksigenase dihambat, maka COX-1 tidak dapat membentuk prostaglandin dalam lambung.

Gambar 1.  Mekanisme Penghambatan COX oleh NSAID

Jika prostaglandin tidak terbentuk, maka adenylyl cyclase akan terbentuk. Akibatnya, pompa proton akan terbuka, dan asam (H+) dapat keluar ke lumen lambung untuk bertemu dengan ion Cl membentuk asam lambung. Apabila hal ini terjadi secara terus menerus, maka jumlah asam lambung yang berada pada lumen lambung akan berlebih yang dapat menyebabkan terkikisnya mukosa lambung.

           

Gambar 2.  Mekanisme Sekresi Asam Lambung

(sumber: kompasiana.com)

Bagaimana cara menyembuhkan gastritis yang diakibatkan oleh penggunaan NSAID? Salah satu caranya adalah dengan menggunakan obat golongan PPI (Proton Pump Inhibitor) seperti Omeprazole 20 mg yang dapat diminum 1 kali sehari sebelum makan. Golongan PPI dianggap pilihan yang paling tepat untuk mengobati gastritis yang disebabkan oleh efek NSAID. Hal ini dikarenakan mekanisme kerja PPI yang menghambat pembukaan pompa proton yang merupakan tempat keluarnya asam (H+) ke lumen lambung secara langsung, sehingga PPI dapat menggantikan tugas prostaglandin untuk menghambat asam (H+) agar tidak keluar ke lumen lambung. Akibatnya, jumlah gastrin yang disekresikan pada lumen lambung tidak akan berlebih dan mengurangi insidensi gastritis.

NSAID memiliki efek samping yang menyebabkan gastritis, terutama jika tidak dikonsumsi secara tepat. Pada umumnya, NSAID tidak boleh diberikan pada orang yang memiliki umur di bawah 16 tahun dan di atas 65 tahun, serta pemakaiannya sangat tidak dianjurkan untuk orang yang mengidap penyakit lambung (gastritis, tukak lambung), hamil, dan memiliki alergi terhadap NSAID. Oleh karena itu, NSAID sebaiknya diminum ketika sudah dikonsultasikan dengan dokter, terutama bila memiliki riwayat ulcer lambung, agar didapat dosis yang tepat dan aman bagi tubuh.

Pustaka:

Amrulloh, F. M., Utami, N., 2016, Hubungan Konsumsi OAINS Terhadap Gastritis¸ Majority, Volume 2, Nomor 5, Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Penulis,

Eugenia Sekar Aruna Larasati, Cindy Prisilia, Sinta Susanti, Valentesia Setiawati

Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Leave a Comment