EFRIDA JULIANA HARIANJARedaktur Signa Gen 2

Efrida Juliana Harianja atau yang sering disapa Kak Evi ini adalah alumni STFI angkatan 2012 yang menjadi Redaktur Signa Generasi Kedua dan menjabat pada masa jabatan tahun 2014-2015.

Awalnya ia tidak tertarik dengan dunia kefarmasian karena menurutnya banyak aturan dalam farmasi. Ia lebih tertarik dengan hal-hal yang tidak monoton dan kaku. Kak Evi mengaku masuk ke dunia kefarmasian karena permintaan alm. papanya. Setelah menjalani kuliah, ternyata semua mata kuliah sangat menarik dimatanya. Hanya saja, terkadang ia kehabisan waktu untuk mengerjakan laporan praktikum daripada mendalami kuliah yang baru saja atau akan disampaikan dosen.

“Jadi kadang roaming gitu kalau di kelas,” katanya.

Hal roaming ini banyak terjadi pada mahasiswa. Namun ia punya trik tersendiri untuk menghadapinya.“Biasanya saya catat saja dulu, baru nanti dicari di perpustakaan atau googling. Saya tidak biasa bertanya, karena instant banget gitu, kalau mencari sendiri kan lebih dituntut untuk memiliki kompetensi dalam menelusuri pustaka.”

Kak Evi yang hobi ngopi sambil baca novel ini kuliah sambil freelance loh.. Wah, hebat.. Kok bisa ya?

Awalnya Kak Evi membuat kesepakatan dengan owner, agar pekerjaan tidak mengorbankan kuliah.

“Bagaimana pun juga tanggung jawab utama saya kan kuliah. Freelance hanya untuk cari uang saku lebih aja,” ujarnya.

“Gimana sih cara menghadapi titik jenuh perkuliahan Kak? Dan gimana cara bagi waktunya?”

Kak Evi mengaku lebih jenuh bekerja daripada saat kuliah meskipun kadang lebih lelah kuliah daripada bekerja. Sebagai seorang freelancer, ia menyiasati tugas kuliah dengan mengerjakannya di tempat kerja.

“Kalau tugas ada yang dikerjain atau dikonsep di tempat kerja. Jadi waktu mengerjakannya lebih mudah dan cepat.”

Di tahun 2017 ini, setelah mendapatkan gelar S.Farm, Kak Evi yang lahir 27 tahun lalu di Tapanuli Utara ini sedang melanjutkan program studi profesinya di ITB. Kak Evi mengaku saat mempersiapkan diri untuk ujian masuk profesi apoteker di ITB tidak belajar dengan berat. Ia mengatakan persiapannya dilakukan bersama teman-temannya.

“Kita diskusi dan menjawab semua soal sesuai logika. Karena itu, logika dalam menjawab soal harus dibangun dari semester awal agar terbiasa. Tapi bukan berarti kita antipasti dengan segala kegiatan kampus, kegiatan kemahasiswaan dan sebagainya. Karena sebenarnya dari kegiatan-kegiatan itu pun kita banyak dibentuk, termasuk manajemen waktu.” tambahnya.

Bagaimana kesan Kakak di kampus baru?

“Sejujurnya sampai sekarang juga tidak tersesuaikan sih. Tapi, karena saya tidak sendirian, ada teman-teman lain dari STFI juga, jadi kadang masih pakai cara belajar di STFI dulu.”

Kak Evi mengatakan sikap mahasiswa ITB dalam menghadapi kasus atau tugas itu lebih kritis dan idealis. Mereka banyak mengkonfirmasi teori dengan praktek di lapangannya dan aktif saat kuliah.

Mahasiswa dengan predikat cum laude saat lulus dari STFI ini memiliki motto :

“Aku bisa mendapatkan apapun yang aku harapkan, tapi aku harus pantas dahulu sebelum mendapatkan sekecil apapun itu.”

Ada pesan untuk adik kelas Kak?

“Kalian boleh ada di mana saja, suka atau tidak suka, tapi ingat saja satu hal.. Bukan tempat yang membuat orang hebat, tapi orang yang membuat tempat itu hebat. Jadi, nama baik STFI, nama baik keluarga kalian adalah keputusan kalian sendiri. Selain itu, kalau mengerjakan sesuatu, kerjakan semaksimal mungkin, lakukan sampai selesai dan sebaik mungkin atau tidak sama sekali.”

Wah.. Terima kasih pesannya Kak.. Semangat dan sukses terus Kak Evi..

Penulis : Shauli Nur Savitri

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.