Akhir Ramadhan, Tumbilotohe Bertebaran Menerangi Gorontalo

Ramadhan itu adalah waktu yang sangat istimewa. Ramadhan adalah bulan kasih sayang. Bulan dimana Allah memberikan rahmat-Nya, ampunan-Nya, dan dibebaskan dari neraka. Bulan dimana Allah memberikan biggest sale. Sudah seharusnya, sebagai umat muslim, kita menyambut kedatangan Ramadhan dengan perasaan gembira.

“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka gembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Q.S Yunus: 58)

Euforia ini tak hanya datang ketika menyambut Ramadhan saja. Di pengujung Ramadhan, masyarakat Gorontalo mempunyai tradisi tersendiri dalam mengekspresikan kegembiraan ini. Tradisi ini disebut dengan “Tumbilotohe”. Kata ini berasal dari bahasa Gorontalo yaitu tumbilo artinya pasang dan tohe artinya lampu. Acara tahunan ini dimulai pada malam ke-27 Ramadhan hingga menjelang Idul Fitri. Lampu-lampu yang dipasang terbuat dari botol bekas yang bagian tutupnya dipasangi sumbu kompor. Dahulu, lampu-lampu ini terbuat dari wadah buah papaya yang dibelah dan menggunakan sumbu dari kapas dan minyak kelapa. Menurut Saras, mahasiswi asal Universitas Muhammadiyah Gorontalo, lampu-lampu ini biasanya dipasang di rumah masing-masing, jumlahnya bisa disesuaikan dengan luas halaman rumah dan budget yang ada.

Tradisi ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke-15. Pada saat itu, penerangan di daerah Gorontalo sangatlah minim. Untuk mempermudah warga sekitar dalam pembagian zakat mal pada saat itu, maka di setiap rumah dipasang lampu-lampu minyak yang sederhana. Seiring perkembangan zaman, ada juga yang sudah mengganti lampu tersebut dengan lampu listrik dan menjadi tradisi turun-temurun hingga saat ini.

Perayaan ini sangatlah kental dengan nilai agama. Tumbilotohe mengandung makna yang mengisyaratkan bahwa lampu yang dipasang sebagai harapan untuk mendapatkan berkah pada malam lailatul qadr atau pada 10 malam terakhir di bulan Ramadhan. Menurut kebiasaan masyarakat sekitar, sebelum menyalakan lampu, masyarakat membaca Surat Al-Qadr (Ismail Suardi Wekke, 2018)

Tumbilotohe, pateya tohe… Ta mohile jakati bubohe lo popatii…

Kalimat pantun ini biasanya dilantunkan oleh anak-anak pada saat tradisi pemasangan lampu dimulai. Kalimat ini memiliki arti, “Tumbilotohe, matikan lampu. Orang minta zakat dipukul dengan pacul.”

Perayaan malam tumbilotohe memberi makna penerangan bagi umat muslim yang ingin beribadah ke masjid untuk mendapatkan lailatul qadr. Tumbilotohe juga bermaksud untuk mendorong warga sekitar agar semangat dalam beribadah dan meraih rahmat-Nya. Semoga kehidupan kita senantiasa diterangi ‘cahaya dari Allah’, layaknya tumbilotohe yang menerangi Gorontalo di malam seribu bulan yang mulia ini..

Penulis,

Marliana

Leave a Comment