MATAKU TUK INGINMU

***

Pintu triplek bercat putih kusam itu terbuka. Deritnya masih sama seperti saat dia tinggalkan rumah butut itu sembilan tahun yang lalu. Suara ketukannya pun tak berubah. Semua tak mengejutkan baginya. Namun, ada hal lain yang membuat dia terbelalak. Sosok yang membuka pintu triplek butut itu. Wanita paruh baya dengan pakaian lusuh, wajah keriput, dan rambut beruban.

“Alya?” Alya tak menyahut, “Alya anakku!!”

Wanita itu berhambur memeluknya, tapi Alya mengelak dengan cepat sambil berteriak, “Apa yang kamu lakukan di sini?!!”

“Alya, ini ibu, Nak,” wanita itu berusaha menghampiri Alya, tapi Alya terus menghindar.

“Kamu bukan Ibuku!!” Alya balik berlari, tak mempedulikan wanita yang terus memanggil-manggil dirinya.

“Ada apa, Bu?” keluar pria tua dari rumah triplek itu.

Alya berlari sekencang-kencangnya. Air matanya membanjir. Bayang tragedi lima belas tahun yang lalu berkelebat di benaknya. Kejadian naas yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri mencuat di permukaan ingatan.

Bayangan itu bergerak perlahan mendekati ranjang reyot Sita. Gerakan bayangan itu mencurigakan. Alya mengendap mengikuti si bayangan. Tak lama terdengar suara lirih berkata, “Aku sudah tidak sanggup.”

Sejurus terdengar ada suara robekan. Berkali-kali. Alya penasaran. Dia mengintip di balik tirai pintu kamar. Mata Alya terbelalak seraya kedua bola matanya hendak meloncat. Dengan mata kepalanya sendiri, dia melihat tangan ibunya tengah memegang pisau yang tertancap di dada Sita, adiknya. Di sebelahnya, Irwan, adik bungsu Alya, sudah berlumuran darah.

“Sitaaaaa!!!!!!! Irwaaannn!!!!!!!!”

Ibu Alya menoleh. Sinar matanya begitu kejam. Mereka berdua beradu pandang. Bu Maryam, ibu kandung Alya, melepaskan pisau dari tubuh anaknya. Dia mengacungkan pisau yang berlumuran darah itu.

“Aku sudah tidak sangguuuup!!!!!” Bu Maryam dengan cepat bergerak mengejar Alya. Alya kontan berlari.

“Teh Alya?” Alya menyambar tangan Nurjanah, adik keduanya, dan menariknya untuk berlari keluar dari rumah.

“Aku sudah tidak sangguuuppppp!!!!!!” Itu terus yang diteriakkan ibu Alya sambil kesetanan mengejar Alya dan Nurjanah.

“Tolooooonggggg!!!!!!!!!! Tolooooooonnngggg!!!!!!!!!” Alya berteriak sekencang-kencangnya.

Para warga bantaran sungai langsung menoleh ke arah datangnya teriakan dan berbondong mencari tahu apa yang terjadi. Melihat ada dua anak kecil dikejar wanita berpisau, para warga pun bergegas mengambil tindakan. Mereka menangkap Bu Maryam dan merebut pisau yang ada di tangannya. Bu Maryam berontak, tak berhenti berteriak dan menangis. Alya dan Nurjanah diamankan warga.

“Sita… Irwan… Mereka ditusuk Ibu,” ujar Alya tergagap, “Mereka dibunuh ibuuu!!!” Alya tiba-tiba menangis histeris. Tubuhnya roboh. Dia menutup mukanya dengan kedua tangannya. Badannya berguncang. Para warga terperanjat, kaget luar biasa.

Dengan cepat, warga memastikan apa yang dikatakan Alya benar. Mereka pergi ke rumah Alya dan menemukan si kecil Sita dan Irwan berlumuran darah, tak bernyawa di ranjang kamarnya. Salah seorang warga bergegas menghubungi polisi.

Bu Maryam ditangkap tanpa perlawanan berarti. Setelah diinterogasi, ternyata ibunda Alya depresi karena kemiskinan yang melilit keluarganya. Dia sudah tidak sanggup menanggung beban hidupnya yang berat. Menghidupi lima anak dengan lilitan hutang serta pendapatan sangat minim. Dia memilih membunuh anaknya agar beban lebih ringan dan si anak tidak harus menderita karena kemiskinan ini.

Alya duduk di bantaran sungai dekat rumah orang tuanya. Pandangannya kosong ke depan. Berkali-kali dia hapus air matanya, tapi tiap kali itu juga air matanya jatuh.

Sejak tragedi mengerikan itu, Alya memutuskan bermusuhan dengan kemiskinan, tak mau lagi ada kata miskin di tengah keluarganya. Oleh sebab itu, Alya bekerja keras untuk keluar dari garis kemiskinan. Dengan demikian, dia yakin tragedi lima belas tahun yang lalu di keluarganya tidak akan pernah terulang.

Alya belajar dengan giat, bekerja dengan keras, dan akhirnya semua membuahkan hasil. Wanita tangguh ini berhasil menggondol gelar sarjana sekaligus pengusaha wanita muda yang sedang naik daun. Usahanya di bidang fashion semakin berkembang. Banyak karyanya yang dilirik oleh artis terkenal. Kini dia mampu untuk membeli rumah yang layak untuk keluarganya. Rumah yang dibeli dengan hasil keringatnya bertahun-tahun. Inilah bukti nyata amarahnya pada keadaan, pada nasib, pada masa lalu, pada ibu.

“Al?” Seorang pria tua duduk di sebelah Alya.

“Sejak kapan dia bebas?”

“Beberapa minggu yang lalu.”

“Kenapa bapak tidak cerita?”

Pak Surya, Ayah Alya, tak segera menjawab. Pandangannya mengikuti aliran sungai yang warnanya sudah tidak karuan. Banyak sampah yang hanyut. Bau menyengat di mana-mana.

“Lalu, apa yang akan kamu lakukan kalau bapak cerita?” Giliran Alya yang terdiam, “Kamu masih belum memaafkannya, Al?” Alya tak menjawab. Namun, Pak Surya dapat melihat jawabannya dari sorot mata putri sulungnya, “Bagaimana pun dia adalah ibu kamu. Wanita yang sudah melahirkan kamu.”

“Wanita yang sudah membunuh kedua adikku, Pak,” sambar Alya.

“Saat itu ibu khilaf.”

“Bapak sudah memaafkannya?”

“Tidak ada alasan untuk tidak memaafkannya.”

“Pak, dia sudah membunuh dua anak bapak. Selama ini dia selalu mengajari kami tentang iman, tapi dia sendiri tidak punya iman sama sekali!!” Alya emosi.

“Al, istigfar. Apa yang ibu lakukan dulu, itu juga karena bapak. Bapak tidak bisa memenuhi apa yang dibutuhkan keluarga.”

“Bapak ini selalu menyalahkan diri bapak sendiri,” Alya bangkit. Gadis berumur 27 tahun ini berusaha menata hatinya. Dia ingin mengakhiri pembicaraan ini. Alya pun mengubah air mukanya. Dia berusaha tersenyum manis seperti biasa pada ayah tercintanya, “Yach, sudahlah, Pak. Alya tidak mau membicarakan ini lagi. Alya ke sini sebenarnya mau ajak bapak ke Bandung. Alya ingin Bapak dan Ali tinggal bersama Alya dan Nurjannah,” Pak Surya berdiri, “Bapak tidak usah kerja lagi. Sekarang, kan, usaha Alya sudah lumayan mapan. Jadi, cukup untuk membiayai hidup kita berempat.”

“Berempat?” Alya mengangguk, “Lalu, bagaimana dengan ibumu?” Raut wajah Alya kembali muram, “Kamu mau ajak dia juga, kan?”

Alya memalingkan mukanya dan berkata dengan dingin, “Alya… Alya hanya punya kalian berempat. Alya tidak punya ibu.”

“Alya!!”

***

“Bapak tidak akan pergi jika tanpa ibu kamu!” Pak Surya bersikeras ketika hari berikutnya Alya menjemputnya untuk pindah.

“Pak, asal Bapak tahu, apa yang Alya lakukan selama ini untuk Bapak, Nurjannah, dan Ali. Apa Bapak ingin menyia-nyiakan semua perjuangan Alya?”

“Apa kamu juga ingin menyia-nyiakan perjuangan ibu kamu melahirkan dan membesarkan kamu?”

“Dia,” Alya menuding sang ibu, “Juga menyia-nyiakan Sita dan Irwan, adik Alya, anaknya! Dan, orang yang membesarkan Alya separuh hidup Alya adalah bapak.”

“Tapi, kamu tidak akan ada di dunia ini tanpa ibu kamu.”

“Alya tidak minta dilahirkan ke dunia, Pak!”

“Sudah! Sudah!” Bu Maryam menyudahi pertengkaran suaminya dengan si sulung sambil terbatuk-batuk, “Pak, Alya tidak salah sama sekali. Ibu yang salah. Ibu pantas mendapatkan hukuman ini dari Alya. Uhuk… uhuk… Pergilah bersama Alya. Ibu tidak apa-apa sendiri.”

“Tidak. Bapak tidak akan pernah meninggalkan ibu sendiri di sini. Alya harus menghormati ibu. Apapun yang terjadi ibu adalah ibunya sampai mati,” Pak Surya lantas menoleh Alya, “Belasan tahun apa tidak cukup untuk membayar semuanya, Al?”

“Semua itu tidak akan pernah menghidupkan Sita dan Irwan.”

“Alya!!!” Pak Surya membentak Alya untuk pertama kali dalam hidupnya. Alya terhenyak, “Kamu sudah keterlaluan!!! Bapak tidak pernah mengajari kamu menjadi anak durhaka!!! Sekalipun ibu kamu mati untuk membayar kesalahannya, Sita dan Irwan tidak akan pernah hidup kembali!!!”

“Itu lebih baik! Dengan begitu, Alya tidak perlu melihat wajahnya sehingga Alya teringat bagaimana dia menghujamkan pisau ke tubuh Sita dan Irwan! Bapak tidak tahu bagaimana rasanya melihat kejadian mengerikan itu! Alya tidak sudi melihat wajah pembunuh ini lagi seumur hidup Alya!!”

PLAAKKK!!!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Alya. Bu Maryam, Nurjannah, dan Ali terhenyak dibuatnya. Pak Surya pun tak menyangka dirinya sanggup melakukan itu.

“Al… Alya.”

Alya melemparkan tatapan tajamnya pada sang ayah. Keduanya sejenak beradu pandang, “Alya berjuang keluar dari kemiskinan agar tidak ada lagi di antara kita yang saling membunuh karena kemiskinan. Alya salah. Bapak sekarang yang membunuh hati Alya.”

Alya beranjak pergi dengan berlinang air mata.

“Al. Alya!” Pak Surya mengejar Alya, tapi si sulung tak terkejar, “Alya, anak bapak! Maafkan bapak, Al.”

Tiga jam kemudian.

“Bapak!! Ibu!! …Bapak!! Ibu!!” Nurjannah lari tergopoh ke rumah Pak Surya.

Pak Surya dan sang istri keluar dari rumah diikuti Ali, “Nur? Ada apa?”

“Bapak, Ibu, Teh Alya,” Nurjannah terengah-engah.

“Kenapa dengan Alya?” tanya Bu Maryam cemas.

“Teh Alya kecelakaan.”

Astagfirullah!!!” seru ketiganya.

“Tadi ada polisi telepon dan mengabari Teh Alya kecelakaan dan dilarikan ke Rumah Sakit.”

“Ayo, kita ke Rumah Sakit!” seru Pak Surya tak sabar. Dia bergegas mencari kunci pintu.

“Cepat, Pak!” paksa Bu Maryam.

“Iya sebentar,” Pak Surya cepat-cepat mengunci pintu, “Ayo!!”

Saat mereka berangkat, tiba-tiba Bu Maryam memperlambat langkahnya. Ada sakit yang dirasanya di dada. Sekonyong-konyong dia terjatuh. Semua berbalik, “Ibu!!!”

***

Beberapa minggu kemudian.

“Coba buka matanya perlahan-lahan,” perintah suara seorang pria. Alya menurut. Semua orang menanti dengan jantung berdebar-debar, “Bagaimana?”

Alya menyipitkan mata. Sedikit demi sedikit matanya terbuka sempurna. Bola matanya bergulir ke kanan, ke kiri, ke atas, dan ke bawah. Senyumnya terkembang.

Alhamdulillah, Dok. Saya bisa melihat sekarang.”

Alhamdulillah,” seru semuanya. Nurjannah langsung memeluk Alya. Alya membalasnya erat. Alya melihat ada Ali dan Pak Surya di sampingnya. Gadis ini lega bisa melihat seluruh keluarganya setelah berminggu-minggu terjebak dalam gelap karena kecelakaan mobil yang menimpanya.

Namun, rasanya ada yang kurang, “Ke mana dia? ah, mungkin kini dia mengerti aku benar-benar tidak ingin melihatnya.”

“Hmm, Nur, kalau boleh teteh tahu, siapa yang sudah mendonorkan kornea matanya untuk teteh?”

Nurjannah, Pak Surya, dan Ali saling pandang. Tak ada satupun yang bicara.

“Kenapa semua diam? Apa yang kalian tutup-tutupi?”

“Hmm, tidak ada, Teh. Kita tidak tahu siapa si pendonor itu. Kan, prosedur dari Rumah Sakit, penerima donor tidak boleh tahu siapa pendonornya.”

Alya mencium ada yang tidak beres. Matanya bergerak menatap satu per satu mata adik-adik dan ayahnya. Berkali-kali Nurjannah dan Pak Surya meyakinkan bahwa mereka tidak tahu menahu tentang si pendonor. Namun, Alya tak percaya.

“Ali,” Ali terkesiap, “Ali, kamu adik teteh yang tidak bisa berbohong,” Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam, “Kamu tahu siapa pendonor kornea teteh?” Ali diam. Dia semakin menenggelamkan kepalanya, “Ali?”

“Al, untuk apa kamu tahu siapa yang mendonorkan korneanya untuk kamu? Yang penting, kan, kamu sudah bisa melihat.”

“Pak, jika gelagat kalian tidak aneh seperti ini, Alya mungkin tidak curiga.”

“Tidak ada yang aneh, Teh,” Nurjannah kembali meyakinkan. Akan tetapi, tingkah Nurjannah semakin meyakinkan Alya ada yang salah dengan semua ini.

Alya melirik Ali, “Ali katakan yang sebenarnya! Siapa pendonor itu?” Alya meremas kedua lengan Ali, “Ali!”

Mulut Ali bergerak. Perlahan dia berkata, “I… Ibu, Teh.”

“Siapa?”

“Ibu, Teh,” ulang Ali ketakutan.

Tubuh Alya gemetar. Jawaban Ali berjuta makna.

“Al, dengarkan Bapak.”

“Tunjukkan di mana dia, Ali!”

“Al.”

“Tunjukkan di mana dia Ali!!!” bentak Alya. Dia tak peduli dengan keberadaan Pak Surya maupun Nurjannah. Sekeras apapun mereka menghalanginya, Alya tetap memaksa Ali mengantarkannya ke tempat Bu Maryam. Ali tak bisa berkutik.

Matanya nanar. Dia tak percaya dengan yang dia lihat. Alya tak kuasa menahan tubuhnya. Dia roboh depan sebuah pusara. Tertulis di kayu nisan itu Maryam binti Nurdin. Itu adalah nama wanita yang melahirkannya 27 tahun yang lalu.

“Bukan! Bukan ini yang Alya inginkan!!!!! Bukan ini!!!!!!” Alya berteriak histeris. Dia menggali gundukan tanah yang masih basah itu dengan tangannya. Pak Surya lekas menahan Alya untuk melakukan hal yang tidak-tidak.

“Alya, istigfar, Nak, istigfar!!!!”

“Alya tidak mau mata ini!!!! Alya ingin Ibu!!!!” Pak Surya memeluk erat Alya. Alya memberontak dalam pelukan bapak tua ini, “Maafkan Alya. Maafkan Alya, Bu!!!!”

Nurjannah dan Ali tak kuasa melihat penyesalan sang kakak. Nurjannah berlinang air mata. Ali menahan isaknya.

Ali teringat apa yang dikatakan sang bunda di saat terakhir hidupnya.

“Berikan kedua mata ini pada kakak kamu, Ali.”

“Lalu bagaimana dengan Ibu?”

“Kakak kamu jauh lebih membutuhkan kedua mata ini dibandingkan Ibu. Yang dia inginkan adalah tidak mau melihat ibu lagi, bukan tidak mau melihat dunia lagi. Dengan begitu, terwujud keinginan kakakmu. Ibu harap dengan ini kesalahan ibu terbayar di mata kakak kamu.”

Tak lama, serangan jantung yang kedua kalinya merenggut nyawa sang bunda.

Ali tak mungkin mengatakan itu pada kakaknya. Jika kakaknya tahu, Ali yakin penyesalan kakaknya akan semakin dalam. Ali tak sanggup melihat kakaknya semakin terpuruk. Terlalu banyak hal buruk yang dialami sang kakak dalam hidupnya.

Oleh : Revika Rachmaniar

Leave a Comment