Nyai Ontosoroh dan Kontemplasi terhadap Kepemimpinannya

Cover buku “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer

Sumber: yuwibowohandayani.blogspot.com

Pernah membaca aku sebuah karya yang menyadarkan diriku ini. Dulu aku berpikir bahwa perempuan itu memang fitrahnya bukan menjadi pemimpin. Namun, kulihat sosok Nyai Ontosoroh, dalam Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, membuatku tertegun dan berpikir.

“Jika ada 1000 yang seperti Nyai Ontosoroh maka Hindia Belanda akan gulung tikar di Nusantara,” ujar Juffrouw Magda Peters, Guru Sastra Belanda HBS di Surabaya, kepada Minke. Tersadar aku pun bahwa perempuan itu adalah agen perubahan peradaban sebuah zaman.

Bayangkan! Seorang pemimpin laki-laki tidak bisa terlahir jika tanpa ibu! Toh, kan yang melahirkannya adalah seorang ibu, yang juga pastinya adalah seorang perempuan. Bayangkan pula juga pasti dibalik pemimpin dan tokoh besar laki-laki, maka di situlah ada peran ibu atau istrinya.

Peran ibu sebagai pendidik pertama di hidupnya dan peran istri sebagai pendamping perjalanan hidupnya mencapai kematangan berbagai aspek: pikiran, hati, finansial, dan kesehatan.

Setiap manusia yang menjadi pemimpin tentunya memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Contohnya adalah Nyai Ontosoroh yang bisa mengatur dan memimpin perusahaan besarnya yang bisa dibilang sukses dengan cara otodidak.

Tuhan melebihkan kekuatan perasaan kepada perempuan. Nyai Ontosoroh bisa membuat seorang terpelajar, Minke, menjadi takluk untuk tinggal di Wonokromo dengan permintaannya. Tentu saja, itu berkat kekuatan perasaan.

Dibalik semua itu, terdapat kekurangan dari perasaan: sulit untuk melepas dendam. Terlalu perasa seperti Nyai Ontosoroh, menyebabkannya sulit melepas dendam dan segala luka masa lalu. Ia menaruh dendam terhadap orangtuanya yang telah menjualnya kepada seorang Tuan Belanda yang sekarang menjadikannya Nyai.

Dendam itu yang menjadikannya bahan bakar untuk mencapai kesuksesan perusahaannya. Harus bisa membuktikan bahwa dirinya mampu hidup mandiri dan berjalan di kaki sendiri. Terlihat dendam itu seperti bukan hal buruk, tetapi itu termasuk penyakit hati, bukan?

Suatu keniscayaan Tuhan menitipkan kelebihan kepada perempuan beserta kekurangannya menjadi sepaket komplet. Aku harap para perempuan, terutama di Indonesia, menjadi versi terbaik dalam dirinya. Sekelam apapun masa lalunya dan senyaman apapun ia hidup sekarang, pada akhirnya semua sampai pada bentuk stabilnya yang bernama kematian.

Penulis          : Muhammad Ismail Faruqi

Editor            : Amanda Tri Kartika

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.