Dibalik Alat Kateter : Kisah di Laboratorium Farmakokinetika

Di sebuah ruangan yang penuh dengan aroma kimia dan suara berdenging alat-alat laboratorium, sekelompok mahasiswa di Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Bandung tengah mempersiapkan eksperimen penting. Mereka adalah Arif, seorang pemimpin yang cermat; Mesi, seorang analis data yang cerdas; Azra, teknisi laboratorium yang cekatan dan Zulfa, ahli farmasi dengan ketelitian tinggi. Tugas mereka kali ini adalah menetapkan parameter pemberian dosis tunggal menggunakan data darah tikus. Proyek ini diberikan oleh dosen mereka yaitu apt. Novi Irwan Fauzi, M.Si, yang terkenal dengan ketelitiannya dalam riset farmakokinetika. apt. Novi memberikan mereka senyawa baru yang dikembangkan untuk mengobati hipertensi, dan mereka harus menguji bagaimana senyawa tersebut bergerak melalui tubuh tikus.

Di hari pertama eksperimen, tim mempersiapkan semua peralatan dan tikus percobaan. Mereka membagi tugas diantaranya yaitu Arif akan memimpin dan memastikan semuanya berjalan lancar,  Mesi akan mengumpulkan dan menganalisis data darah, Azra akan mengatur pemberian dosis dan pengambilan sampel darah, dan Zulfa akan memastikan prosedur sterilisasi dan keselamatan. Setelah memberikan dosis tunggal senyawa tersebut kepada tikus, mereka mulai mengambil sampel darah pada interval waktu yang telah ditentukan yaitu 0, 30, 60, 120, dan 240 menit. Laboratorium itu penuh dengan kesibukan, tetapi setiap anggota tim tahu peran mereka dan bekerja dengan koordinasi yang sempurna.

Mesi, dengan mata tertuju pada layar komputer, mulai menganalisis data yang masuk. “Ada pola yang menarik di sini,” katanya. “Konsentrasi senyawa di darah meningkat dengan cepat setelah pemberian, tetapi kemudian menurun lebih lambat dari yang kita duga.” Arif sambil mengusap dahi. “Kita perlu memastikan data ini konsisten. Azra, kamu sudah melakukan pengambilan sampel darah dengan tepat?” Azra mengangguk. “Semua sesuai prosedur. Kita bisa coba analisis ulang untuk memastikan.” Dengan sabar, mereka mengulang beberapa eksperimen untuk memverifikasi data. Hari demi hari, mereka bekerja tanpa lelah, mencatat setiap detail dan memastikan tidak ada kesalahan. Hingga akhirnya, mereka berhasil mendapatkan data yang konsisten dan dapat dipercaya.

Setelah mengumpulkan semua data, mereka berkumpul di ruang diskusi untuk menganalisis hasilnya. Azra dan Zulfa mempresentasikan temuannya ke apt Novi. “Berdasarkan data yang kita kumpulkan, kita bisa melihat bahwa senyawa ini memiliki waktu paruh yang cukup panjang dan volume distribusi yang besar pak. Ini menunjukkan bahwa senyawa tersebut tersebar luas di jaringan tubuh.” Arif menambahkan, “Dan berdasarkan profil konsentrasi waktu, kita bisa menentukan parameter farmakokinetika seperti Cmax, Tmax, dan AUC.”

Dengan bantuan para asisten laboratorium, mereka melakukan perhitungan lebih lanjut dan menyusun laporan lengkap. apt. Novi, dengan senyum bangga, berkata “Kalian telah melakukan pekerjaan yang luar biasa. Parameter yang kalian tetapkan sangat penting untuk langkah selanjutnya dalam pengembangan obat ini.”

Malam itu, setelah bekerja keras selama dua minggu, mereka merayakan keberhasilan mereka di sebuah warung makan sederhana dekat kampus atau yang dikenal dengan nama kantin oren. Sambil menikmati makanan tersebut, mereka berbicara tentang pengalaman mereka. “Aku belajar banyak dari eksperimen ini,” kata Mesi. “Bukan hanya tentang teknis, tapi juga tentang kerja tim dan ketekunan.” Arif mengangguk. “Aku setuju. Kita bisa mencapai banyak hal jika kita bekerja sama dan tidak menyerah.”

Di laboratorium farmakokinetika Sekolah Tinggi Farmasi Bandung, mereka telah membuktikan bahwa dengan kerja keras, koordinasi, dan semangat pantang menyerah, mereka bisa menyelesaikan tugas yang menantang dan memberikan kontribusi penting pada dunia farmasi. Dan di sanalah, mereka siap untuk menghadapi tantangan berikutnya, dengan pengetahuan yang lebih dalam dan kepercayaan diri yang lebih besar.

Penulis : Muhamad Ad Muarif

Editor : Aida Rizky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.